Syamsi Ali, Imam Masjid di New York, Amerika Serikat asal Indonesia
Setiap agama senantiasa mengajarkan kebaikan kepada
umatnya. Tak terkecuali Islam sebagaimana yang tertera di dalam kitab
suci Al Quran. Dianjurkan agar membalas perbuatan jahat yang dilakukan
oleh orang lain dengan sikap yang baik. Memang diperbolehkan membalas
setara dengan apa yang telah diperbuat oleh orang lain. Tetapi akan
lebih mulia jika membalas dengan perbuatan yang baik.
Seorang Imam Masjid di Amerika, Syamsi Ali, pada suatu ketika didatangi oleh seorang warga Amerika yang phobia terhadap Islam. Imam yang merupakan warga asli Indonesia ini dicerca dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati. Walau tidak menyentuh fisik namun pemuda yang sedang tersulut emosi tersebut menyemprot dengan ekspresi geram.
Cercaan tersebut sebenarnya tidak tertuju pada dirinya pribadi atau keluarga. Juga tidak mengarah kepada negara tempat ia berasal yang dihuni muslim terbesar di dunia. Tetapi dituju kepada seseorang yang dimuliakan dalam Islam. Panutan yang menjadi teladan khususnya bagi diri sang imam tersebut. Nabi Muhammad SAW.
Syamsi Ali hanya bisa menahan amarah di dalam hati. Sambil sesekali dalam hatinya mengucapkan kalimat istighfar. Dengan tetap bersabar memperlihatkan sikap ramah kepada pemuda tersebut seakan tak ada amarah di hatinya.
Syamsi sepertinya paham betul dengan apa yang telah diteladani oleh Nabi Muhammad SAW. Membalas reaksi dengan sikap tidak melawan dan tetap ramah sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi yang pernah menghadapi cercaan dari umat terdahulu. Senantiasa berusaha untuk berprasangka baik. Membalas perbuatan jahat dengan kebaikan.
Setelah pemuda tersebut puas melampiaskan kekesalannya terhadap Islam, lalu ia pergi meninggalkan Imam Masjid kelahiran Tanah Toa, Sulawesi Selatan tersebut. Selang beberapa minggu, sang pemuda Amerika itu kembali menemui Syamsi. Kedatangan keduanya untuk melakukan pelampiasan. Bukan melampiaskan kemarahan seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. Tetapi melampiaskan rasa penasaran atas sikap Syamsi yang tidak melawan saat dicerca dengan kata-kata hujatan. Membuat sang pemuda mulai kagum terhadap Imam Masjid di Kota New York tersebut.
Mereka berkomunikasi secara dingin. Terlihat mulai akrab. Tidak seperti beberapa waktu lalu yang terbakar amarah. Syamsi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal di hati pemuda tersebut. Percakapan berlangsung damai. Tak ada percikan emosi. Tak ada dendam. Namun goresan senyuman yang terlihat di wajah mereka. Hingga akhirnya sang pemuda Amerika tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat.
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar” (QS Fushilat [41]: 34-35)
(Disadur dari pengalaman Imam Masjid Amerika saat diundang pada acara Islam Itu Indah Trans TV
Seorang Imam Masjid di Amerika, Syamsi Ali, pada suatu ketika didatangi oleh seorang warga Amerika yang phobia terhadap Islam. Imam yang merupakan warga asli Indonesia ini dicerca dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati. Walau tidak menyentuh fisik namun pemuda yang sedang tersulut emosi tersebut menyemprot dengan ekspresi geram.
Cercaan tersebut sebenarnya tidak tertuju pada dirinya pribadi atau keluarga. Juga tidak mengarah kepada negara tempat ia berasal yang dihuni muslim terbesar di dunia. Tetapi dituju kepada seseorang yang dimuliakan dalam Islam. Panutan yang menjadi teladan khususnya bagi diri sang imam tersebut. Nabi Muhammad SAW.
Syamsi Ali hanya bisa menahan amarah di dalam hati. Sambil sesekali dalam hatinya mengucapkan kalimat istighfar. Dengan tetap bersabar memperlihatkan sikap ramah kepada pemuda tersebut seakan tak ada amarah di hatinya.
Syamsi sepertinya paham betul dengan apa yang telah diteladani oleh Nabi Muhammad SAW. Membalas reaksi dengan sikap tidak melawan dan tetap ramah sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi yang pernah menghadapi cercaan dari umat terdahulu. Senantiasa berusaha untuk berprasangka baik. Membalas perbuatan jahat dengan kebaikan.
Setelah pemuda tersebut puas melampiaskan kekesalannya terhadap Islam, lalu ia pergi meninggalkan Imam Masjid kelahiran Tanah Toa, Sulawesi Selatan tersebut. Selang beberapa minggu, sang pemuda Amerika itu kembali menemui Syamsi. Kedatangan keduanya untuk melakukan pelampiasan. Bukan melampiaskan kemarahan seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. Tetapi melampiaskan rasa penasaran atas sikap Syamsi yang tidak melawan saat dicerca dengan kata-kata hujatan. Membuat sang pemuda mulai kagum terhadap Imam Masjid di Kota New York tersebut.
Mereka berkomunikasi secara dingin. Terlihat mulai akrab. Tidak seperti beberapa waktu lalu yang terbakar amarah. Syamsi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal di hati pemuda tersebut. Percakapan berlangsung damai. Tak ada percikan emosi. Tak ada dendam. Namun goresan senyuman yang terlihat di wajah mereka. Hingga akhirnya sang pemuda Amerika tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat.
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar” (QS Fushilat [41]: 34-35)
(Disadur dari pengalaman Imam Masjid Amerika saat diundang pada acara Islam Itu Indah Trans TV

Posting Komentar