BREAKING
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juli 2015

Aghnia Nabila, Wanita Muda Mandiri yang Inspiratif








Usia muda bukan halangan untuk mewujudkan cita-cita seseorang untuk menjadi wirausaha muda mandiri yang sukses. Meski statusnya adalah mahasiswa semester enam fakultas hukum di Universitas Padjajaran, Bandung, Aghnia Nabila sudah punya tekad yang kuat untuk menjalankan bisnis. “Saya sangat suka makan, jadi saya memutuskan untuk bisnis di bidang makanan,” tuturnya. Bermodal kecintaan pada makanan, ia pun memutuskan untuk mulai berjualan risoles keju atas pesanan teman-teman kampusnya. Seiring berjalannya waktu, ia pun berani untuk membuka sebuah outlet dengan nama L’Risoles di Bandung. Usaha inipun berkembang menjadi lima reseller di kota Bandung, dalam satu bulan omsetnya hingga Rp30 juta. Ia pun sudah mempunyai 4 pegawai yang ia rekrut dari para tuna karya di sekitar rumahnya.
Selain berbisnis dan kuliah, perempuan kelahiran Bandung, 5 Desember 1991 ini juga aktif mengikuti beragam aktivitas keorganisasian di kampus. Ia juga tercatat sebagai anggota BEM FH Unpad sebagai kader Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) dan merupakan salah satu pendiri Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Perguruan Tinggi Unpad, sebagai ketua divisi kewirausahaan. “Ini sebagai salah satu wujud kepedulian saya untuk membangkitkan semangat wirausaha para generasi muda,” tuturnya.
Meskipun sibuk, tidak mengganggu prestasinya. Buktinya, baru-baru ini Ia terpilih menjadi finalis mahasiswa berprestasi di Unpad tahun 2011. Saat disinggung mengenai kepiawaiannya dalam mengatur waktu, ia hanya menjawab bahwa ia tak punya metode khusus. “Yang saya lakukan hanya fokus pada berbagai hal yang sedang saya lakukan. Waktu kuliah saya benar-benar konsentrasi di pelajaran, karena saya sadar saya tak punya banyak waktu senggang,” ujarnya. Prestasi, usia muda, dan semangat wirausaha inilah yang menjadikannya terpilih sebagai salah satu perempuan inspiratif dan kreatif YCPA.
Muda dan menginpirasi. Terpilihnya Aghnia menjadi salah satu pemenang termuda YCPA diungkapkan Fira Basuki (seorang juri) merupakan keputusan yang tepat. “Salah satu kriteria penentuan pemenang bukanlah dari penampilan fisik. Namun kemampuan mereka untuk dapat berpikir kreatif dan menginspirasi orang lain,” tutur Fira.
Fira Basuki dan desainer Era Soekamto berpendapat bahwa salah satu nilai lebih Aghnia terletak pada kemampuannya dalam menorehkan prestasi di kampus, dan juga sukses dalam bisnis dalam waktu yang bersamaan.
“Selain itu, ia juga mampu menginspirasi generasi muda untuk bisa menjadi pengusaha sukses selagi kuliah. Ini dibuktikan dari kemampuannya untuk memberdayakan mahasiswa yang lain untuk menjadi reseller usahanya,” tutur Era.

Tak hanya itu saja, para juri juga menilai Aghnia mampu jadi contoh teladan karena mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat di sekitarnya, yaitu dengan membuka lapangan pekerjaan. Tentunya kita juga mampu menjadi wirausaha muda mandiri seperti yang dilakukan Aghnia Nabila. Tinggal kita siap atau tidak untuk menjadi wirausahawan muda yang sukses. Salam.. sukses.

sumber: http://blitari.blogspot.com
See more at: http://www.rumahentrepreneur.org/aghnia-nabila-wanita-muda-mandiri-yang-inspiratif.html#sthash.XBDXLTZ4.dpuf

Dari “Mie Ayam Grobakan,” Pria Ini Jadi Jutawan


VIVAnews – Siapa sangka usaha yang awalnya diciptakan untuk sang istri itu, akhirnya membuahkan hasil puluhan juta rupiah. Adalah Wahyu Indra, produser di sebuah rumah produksi, kini sukses membuka usaha mi ayam.
Saat istrinya hamil, Wahyu memutuskan untuk meneruskan sendiri usaha mi ayamnya. Usaha mi ayam itu sengaja dipilih karena merupakan kegemaran Wahyu.
Namun, usahanya itu tak langsung berjalan mulus. Pada tahun pertama membuka usaha “Mie Ayam Grobakan,” ia sempat frustasi, karena mengalami kebosanan luar biasa. Wahyu yang sudah banting setir itu hampir menyerah.
Tapi, pertemuannya dengan pedagang tongseng mengubah semangatnya. Pedagang itu menceritakan jika ia baru menikmati hasil dagangannya setelah 10 tahun berdiri. Terkena razia hingga rugi menjadi pengalaman sehari-hari. Akhirnya, Wahyu bangkit dan menjadi bersemangat.
“Saya mikirnya waktu itu tukang tongseng sudah berjuang 10 tahun baru menikmati hasilnya, kok saya baru setahun sudah mau tutup saja,” ujarnya ketika berbincang dengan VIVAnews.
Akhirnya, Wahyu bangkit dengan memindahkan lokasi usahanya ke tempat yang lebih strategis. Ia juga selama setahun melakukan riset untuk mencari tahu rasa mi ayam yang enak dengan meminta tetangganya menilai rasa mi ayam buatannya.
Pada 2010, Mie Ayam Grobakan mulai dimitrakan. Dan hasilnya, saat ini sudah ada 150 mitra cabang Mie Ayam Grobakan. Cabang itu 90 persen terletak di Jabodetabek dan sisanya tersebar di Pekanbaru, Bandung, Solo, Semarang, dan akan buka sebentar lagi di Yogyakarta.
Ia hanya memiliki satu tempat Mie Ayam Grobakan yang terletak di Jalan Merpati, Depok yang digunakan sebagai display dan tester jika ada mitra yang ingin bergabung. Saat ini, Wahyu fokus untuk membuat mi yang ia ciptakan khusus sebagai ciri khas rasa setiap outletnya.
Dalam sehari, Wahyu yang dibantu empat orang anak buahnya membuat 100-150 kilogram mi dan dijual ke mitranya seharga Rp24.000 per kilogram. Ia bisa meraup keuntungan Rp50 juta setiap bulannya.
sumber : bisnis.news.viva.co.id
- See more at: http://www.rumahentrepreneur.org/dari-mie-ayam-grobakan-pria-ini-jadi-jutawan.html#sthash.FPyubmLn.dpuf


VIVAnews – Siapa sangka usaha yang awalnya diciptakan untuk sang istri itu, akhirnya membuahkan hasil puluhan juta rupiah. Adalah Wahyu Indra, produser di sebuah rumah produksi, kini sukses membuka usaha mi ayam.
Saat istrinya hamil, Wahyu memutuskan untuk meneruskan sendiri usaha mi ayamnya. Usaha mi ayam itu sengaja dipilih karena merupakan kegemaran Wahyu.
Namun, usahanya itu tak langsung berjalan mulus. Pada tahun pertama membuka usaha “Mie Ayam Grobakan,” ia sempat frustasi, karena mengalami kebosanan luar biasa. Wahyu yang sudah banting setir itu hampir menyerah.
Tapi, pertemuannya dengan pedagang tongseng mengubah semangatnya. Pedagang itu menceritakan jika ia baru menikmati hasil dagangannya setelah 10 tahun berdiri. Terkena razia hingga rugi menjadi pengalaman sehari-hari. Akhirnya, Wahyu bangkit dan menjadi bersemangat.
“Saya mikirnya waktu itu tukang tongseng sudah berjuang 10 tahun baru menikmati hasilnya, kok saya baru setahun sudah mau tutup saja,” ujarnya ketika berbincang dengan VIVAnews.
Akhirnya, Wahyu bangkit dengan memindahkan lokasi usahanya ke tempat yang lebih strategis. Ia juga selama setahun melakukan riset untuk mencari tahu rasa mi ayam yang enak dengan meminta tetangganya menilai rasa mi ayam buatannya.
Pada 2010, Mie Ayam Grobakan mulai dimitrakan. Dan hasilnya, saat ini sudah ada 150 mitra cabang Mie Ayam Grobakan. Cabang itu 90 persen terletak di Jabodetabek dan sisanya tersebar di Pekanbaru, Bandung, Solo, Semarang, dan akan buka sebentar lagi di Yogyakarta.
Ia hanya memiliki satu tempat Mie Ayam Grobakan yang terletak di Jalan Merpati, Depok yang digunakan sebagai display dan tester jika ada mitra yang ingin bergabung. Saat ini, Wahyu fokus untuk membuat mi yang ia ciptakan khusus sebagai ciri khas rasa setiap outletnya.
Dalam sehari, Wahyu yang dibantu empat orang anak buahnya membuat 100-150 kilogram mi dan dijual ke mitranya seharga Rp24.000 per kilogram. Ia bisa meraup keuntungan Rp50 juta setiap bulannya.

sumber : bisnis.news.viva.co.id
See more at: http://www.rumahentrepreneur.org/dari-mie-ayam-grobakan-pria-ini-jadi-jutawan.html#sthash.FPyubmLn.dpuf

VIVAnews – Siapa sangka usaha yang awalnya diciptakan untuk sang istri itu, akhirnya membuahkan hasil puluhan juta rupiah. Adalah Wahyu Indra, produser di sebuah rumah produksi, kini sukses membuka usaha mi ayam.
Saat istrinya hamil, Wahyu memutuskan untuk meneruskan sendiri usaha mi ayamnya. Usaha mi ayam itu sengaja dipilih karena merupakan kegemaran Wahyu.
Namun, usahanya itu tak langsung berjalan mulus. Pada tahun pertama membuka usaha “Mie Ayam Grobakan,” ia sempat frustasi, karena mengalami kebosanan luar biasa. Wahyu yang sudah banting setir itu hampir menyerah.
Tapi, pertemuannya dengan pedagang tongseng mengubah semangatnya. Pedagang itu menceritakan jika ia baru menikmati hasil dagangannya setelah 10 tahun berdiri. Terkena razia hingga rugi menjadi pengalaman sehari-hari. Akhirnya, Wahyu bangkit dan menjadi bersemangat.
“Saya mikirnya waktu itu tukang tongseng sudah berjuang 10 tahun baru menikmati hasilnya, kok saya baru setahun sudah mau tutup saja,” ujarnya ketika berbincang dengan VIVAnews.
Akhirnya, Wahyu bangkit dengan memindahkan lokasi usahanya ke tempat yang lebih strategis. Ia juga selama setahun melakukan riset untuk mencari tahu rasa mi ayam yang enak dengan meminta tetangganya menilai rasa mi ayam buatannya.
Pada 2010, Mie Ayam Grobakan mulai dimitrakan. Dan hasilnya, saat ini sudah ada 150 mitra cabang Mie Ayam Grobakan. Cabang itu 90 persen terletak di Jabodetabek dan sisanya tersebar di Pekanbaru, Bandung, Solo, Semarang, dan akan buka sebentar lagi di Yogyakarta.
Ia hanya memiliki satu tempat Mie Ayam Grobakan yang terletak di Jalan Merpati, Depok yang digunakan sebagai display dan tester jika ada mitra yang ingin bergabung. Saat ini, Wahyu fokus untuk membuat mi yang ia ciptakan khusus sebagai ciri khas rasa setiap outletnya.
Dalam sehari, Wahyu yang dibantu empat orang anak buahnya membuat 100-150 kilogram mi dan dijual ke mitranya seharga Rp24.000 per kilogram. Ia bisa meraup keuntungan Rp50 juta setiap bulannya.
sumber : bisnis.news.viva.co.id
- See more at: http://www.rumahentrepreneur.org/dari-mie-ayam-grobakan-pria-ini-jadi-jutawan.html#sthash.FPyubmLn.dpuf
VIVAnews – Siapa sangka usaha yang awalnya diciptakan untuk sang istri itu, akhirnya membuahkan hasil puluhan juta rupiah. Adalah Wahyu Indra, produser di sebuah rumah produksi, kini sukses membuka usaha mi ayam.
Saat istrinya hamil, Wahyu memutuskan untuk meneruskan sendiri usaha mi ayamnya. Usaha mi ayam itu sengaja dipilih karena merupakan kegemaran Wahyu.
Namun, usahanya itu tak langsung berjalan mulus. Pada tahun pertama membuka usaha “Mie Ayam Grobakan,” ia sempat frustasi, karena mengalami kebosanan luar biasa. Wahyu yang sudah banting setir itu hampir menyerah.
Tapi, pertemuannya dengan pedagang tongseng mengubah semangatnya. Pedagang itu menceritakan jika ia baru menikmati hasil dagangannya setelah 10 tahun berdiri. Terkena razia hingga rugi menjadi pengalaman sehari-hari. Akhirnya, Wahyu bangkit dan menjadi bersemangat.
“Saya mikirnya waktu itu tukang tongseng sudah berjuang 10 tahun baru menikmati hasilnya, kok saya baru setahun sudah mau tutup saja,” ujarnya ketika berbincang dengan VIVAnews.
Akhirnya, Wahyu bangkit dengan memindahkan lokasi usahanya ke tempat yang lebih strategis. Ia juga selama setahun melakukan riset untuk mencari tahu rasa mi ayam yang enak dengan meminta tetangganya menilai rasa mi ayam buatannya.
Pada 2010, Mie Ayam Grobakan mulai dimitrakan. Dan hasilnya, saat ini sudah ada 150 mitra cabang Mie Ayam Grobakan. Cabang itu 90 persen terletak di Jabodetabek dan sisanya tersebar di Pekanbaru, Bandung, Solo, Semarang, dan akan buka sebentar lagi di Yogyakarta.
Ia hanya memiliki satu tempat Mie Ayam Grobakan yang terletak di Jalan Merpati, Depok yang digunakan sebagai display dan tester jika ada mitra yang ingin bergabung. Saat ini, Wahyu fokus untuk membuat mi yang ia ciptakan khusus sebagai ciri khas rasa setiap outletnya.
Dalam sehari, Wahyu yang dibantu empat orang anak buahnya membuat 100-150 kilogram mi dan dijual ke mitranya seharga Rp24.000 per kilogram. Ia bisa meraup keuntungan Rp50 juta setiap bulannya.
sumber : bisnis.news.viva.co.id
- See more at: http://www.rumahentrepreneur.org/dari-mie-ayam-grobakan-pria-ini-jadi-jutawan.html#sthash.FPyubmLn.dpuf
Materi : Tehcnopreneur
Lokasi : Kampus Umar Usman
Philanthropy Building Buncit Raya, Jalan Warung Jati Barat Ujung, Pasar Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12540, Indonesia
Narasumber : Karno Ganjar Prasetyo | Founder ( rumahentrepreneur.org, klikusaha.com, buletinusaha.com, webpraktis-id.com, websitepraktis.com, dll )
- See more at: http://www.rumahentrepreneur.org/yes-club-tehcnopreneur-29-april-2015.html#sthash.DJpr5NIC.dpuf

Selasa, 26 Mei 2015

Dari Menangis hingga Tidak Hafal Undang-Undang

JAKARTA - Sunarto, salah satu calon hakim agung, tidak kuasa menahan air matanya. Tangisan Sunarto ini bukan karena tidak bisa menjawab pertanyaan panelis saat mengikuti tes wawancara di Gedung Komisi Yudisial (KY) kemarin.

Tangisan itu pecah saat Sunarto diminta menandatangani pakta integritas. ”Bagi saya, ini tidak asal tanda tangan saja, tetapi beban yang sangat berat apakah saya mampu nantinya (tugas menjadi hakim agung),” ungkap Sunarto diiringi air mata seusai membacakan pakta integritas.

Tidak ada suara yang terlontar ketika dirinya meneteskan air mata. Hanya helaan napas panjang yang seakan-akan menggambarkan beratnya beban yang akan dihadapi apabila terpilih menjadi hakim agung nanti. Air mata pria yang sudah tiga kali ikut seleksi calon hakim agung ini pun kembali tumpah saat diminta membacakan pakta integritas.

Setiap calon hakim agung yang mengikuti tahapan wawancara di KY memang diwajibkan untuk menandatangani pakta integritas. Sebelumnya, pakta integritas tersebut dibacakan di hadapan panelis dan masyarakat umum sebagai komitmen memerangi mafia hukum maupun menolak barang atau fasilitas yang dapat mengganggu independensi hakim agung.

Melalui pakta integritas ini, calon hakim agung harus siap bekerja sama dengan KY dan bersedia mundur sebagai hakim agung apabila tidak melakukan tugas sesuai undangundang (UU) serta melanggar kode etik dan pedoman perilaku hakim (KEPPH).

Bukan hanya Sunarto, tiga calon hakim agung yang juga mengikuti tes wawancara wajib menandatangani pakta integritas. Mereka adalah Fauzan (hakim ad hoc PHI MA), Heru Iriani (wakil Pengadilan Tinggi Bengkulu), dan Maria Anna Samiyati (ketua Pengadilan Tinggi Sulawesi Tengah).

Lain Sunarto lain pula calon hakim agung Maria Anna Samiyati. Bukan pertama kali ini Maria ikut seleksi calon hakim agung. Namun, Maria justru tidak bisa menjawab saat panelis menanyakan perihal Undang- Undang (UU) Hak Cipta. ”Maaf saya belum mendalami hal itu, Pak,” ungkap Maria


Sumber : http://www.koran-sindo.com

Kamis, 14 Mei 2015

Kisah Pemuda Hina yang Dicintai Para Malaikat

Diangkat dari sebuah kisah nyata terjadi di zaman Rasulullah SAW. Suatu hari hiduplah seorang pemuda yang tinggal dengan seorang ibunya yang menderita penyakit lumpuh total. Setiap harinya pemuda ini harus mengurusi ibunya, memberi makan, memandikan, membersihkan kotoran ibunya, dan semua kebutuhan sang ibu. Dikarenakan ibunya sudah lumpuh total hingga tak bisa bergerak, dan pemuda inilah yang terus mengurusi ibu kandungnya itu. 

Untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari harinya, pemuda itu pun harus bekerja sebagai buruh dan pembatu atau budak pada masa itu. Namun tidak ada satu pun yang bersedia menerima pemuda itu, lantaran pemuda itu miskin, kusut, bau dan ditambah lagi ia menderita penyakit kusta dikedua tangannya. Sampai pada akhirnya ada yang mau menerimanya bekerja itu pun hanya sebagai buruh pengangkat susu sapi.


Sepintas tidak ada hal yang istimewa didalam diri pemuda paruh baya ini. Hari harinya hanya sibuk mengurusi ibunya dan disela sela waktu saat ibunya tertidur, ia pun bergegas untuk pergi bekerja mencari kebutuhan untuk keperluan pengobatan ibunya. Hanya ada satu hal yang menjadi kebiasaan si pemuda ini, pemuda ini selalu ingin sekali bertemu dengan Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Tapi mimpinya itu pun tak pernah kesampaian, lantaran ia tidak bisa meninggalkan ibunya sendirian dirumah walau sehari pun. 

Rumah tempat mereka tinggal itu sangatlah terasing, bahkan jauh dari pemukiman atau perkampungan warga. Itu dikarenakan mereka diusir oleh penduduk setempat karena penyakit kusta yang dideritanya itu dianggap berbahaya dan menular. Akhirnya pemuda itu pun harus tinggal bersama ibunya ditempat yang jauh dari kehidupan warga. Tak seorang warga pun yang mau memperthatikan mereka, karena mereka takut, akan tertular penyakit kusta.

Sampai suatu hari, begitu kepinginnya ia bertemu Rasulullah, ia pun menekatkan diri untuk meninggalkan ibunya yang sedang sakit dan pergi menjumpai Rasulullah SAW yang rumahnya berjarak cukup jauh untuk perjalanan kaki. Setelah lebih dari 80 km kurang lebih berjalan, hati dan perasaan pemuda itu pun tidak enak, ia terus menerus memikirkan kondisi dan keadaan ibunya yang sedang sakit dirumah. Semakin ia ingin bertemu Rasul, maka perasaan bersalah karena meninggalkan ibunya pun terus semakin berat. Air matanya terus mengalir selama diperjalanan yang jauh dan tanpa makan dan minum. Tujuannya hanya satu, hanya ingin melihat wajah Rasul, untuk sekali saja.

Namun apa daya, ketika pemuda itu hampir sampai di negeri dimana Rasul tinggal. Ia pun tiba tiba mengubah haluan dan berbalik menyusul ibunya. Tak kuasa menahan tangis, dan merasa berdosa, ia pun lari sekuat tenaga untuk pulang dan menyusul ibunya dirumah. Setelah lebih dari 3 jam berlari, ia pun sampai dirumah dan mendapatkan ibunya telah wafat atau meninggal dunia. Ia pun menangis sejadi jadinya, rasa bersalah terus menyelimuti pikiran dan perasaan pemuda itu. Hingga akhirnya ia pergi menemui warga untuk mengabarkan kepergian ibunya kepada warga.

Ia menemui warga untuk meminta tolong membantu memakamkan dan menguburkan jenazah ibunya, tapi tak seorang warga pun yang mau menolong pemuda itu. Hingga dengan derai air mata, ia sendiri yang mengurusi jenazah ibunya, memandikan, mengafankan, dan menguburkan ibunya. Didalam beberapa ceramahNya, Rasul SAW pernah berpesan kepada para sahabatNya bahwa, mintalah ilmu dan nasihat kehidupan dari salah seorang pemuda di negeri sebrang yang bernama "Uwais Al - Qarni", kalian akan menemuinya kelak. Lihatlah tanda dikedua tangannya ada bekas penyakit kusta.

Sontak para sahabatpun terkejut dan heran, karena mereka tahu bahwa Rasul SAW belum pernah bertemu dengan pemuda itu sebelumnya. Dan sebaliknya pemuda itu pun belum pernah bertemu dengan Rasul sebelumnya. Timbullah rasa penasaran dari para sahabat, amalan apakah yang dimiliki pemuda tersebut, hingga Rasul SAW berpesan agar para sahabat meminta ilmu dan nasihat kehidupan dari pemuda itu.

Tak lama setelah Rasul berpesan, para sahabatpun lalu bergegas pergi kenegeri sebrang dan mencari ciri ciri pemuda yang dimaksudkan oleh Baginda Rasul SAW tersebut. Setelah beberapa hari mencari, akhirnya para sahabat pun berhasil menemui Uwais Al- Qarni pemuda yang dibicarakan oleh Rasul SAW itu. Saat bertemu sahabat mengataan, apakah benar engkau adalah uwais al - qarni ? pemuda itu menjawab, ia benar ! sahabat bertanya lagi, apakah benar dikedua tangamu ada penyakit kusta ? ia menjawab, ia benar ! Para sahabat mengatakan, jika benar engkau adalah orangnya, kami diutus oleh Baginda Nabi Besar Muhammad SAW untuk pergi menemui mu dan meminta ilmu serta nasihat kehidupan. Mohon berikan kami nasihat dan ilmu itu wahai pemuda. Pinta para sahabat, kepadanya.

Sontak, pemuda itu pun terkejut dan heran sembari menahan air matanya. Ia mengatakan, bagaimana bisa aku memberikan ilmu dan nasihat kepada kalian, sementara kalian adalah sahabat Rasul, setiap hari bertemu denganNya. Sementara aku ini hanyalah orang miskin, tak punya apa apa dan aku hanya punya ibu yang kini telah pergi meninggalkanku. Memang aku ingin sekali bertemu langsung dengan Baginda Rasul, tapi mimpiku untuk menemuiNya tak pernah bisa terwujud, karena aku harus mengurusi ibuku setiap harinya. Walaupun aku tahu bahwa aku mungkin tak bisa bertemu dengan Baginda Rasul, tapi aku selalu setia mencoba untuk mengikuti apapun perintah dan ajaranNya tentang islam yang hanya kudengar secara tidak langsung dari orang orang. Karena tak seorang pun mau mengajari pemuda miskin dan berpenyakit seperti aku ini. Itulah yang diungkapkan pemuda itu kepada para sahabat.

Tak lama berselang setelah para sahabat menemui pemuda itu, pemuda itu pun meninggal dunia, karena penyakit yang dideritanya. Saat pemuda itu meninggal, ada kejadian yang sungguh ajaib terjadi. Dimana para warga dan penduduk negeri itu pun terheran heran, karena mereka melihat banyak sekali orang orang yang entah dari mana datangnya berkumpul memadati rumah uwais al- qarni tersebut. Setelah warga penasaran warga pun berduyun duyun pergi kerumah uwais tersebut, mereka melihat banyak sekali orang bahkan hingga ribuan orang berkumpul. Anehnya, bahkan tidak satu orang pun dari ribuan orang orang itu yang mereka kenal.

Warga kampung heran, karena ribuan orang orang yang entah dari mana datangnya ini tadi, mengurusi jenazah uwais, dan menguburkannya lalu mendo'akan jenazah uwais al - qarni. " Mungkin para malaikat ALLAH telah turun kebumi menjelma menjadi manusia dan mengurusi jenazah uwais al - qarni. Wallahu' alam".

Inilah sedikit cerita hebat dari kisah nyata hidup Uwais Al - Qarni pemuda yang hidup dizaman Rasul, ingin sekali bertemu dengan Rasul, namun keterbatasannya membuatnya seumur hidup tidak pernah bertemu dengan Rasul hingga ia wafat. Tapi walaupun dirinya tidak sempat bertemu dengan Rasul, ia selalu setia untuk meneladani Rasul, mengikuti seluruh ajaran yang diajarkan Rasul. Walaupun itu hanya ia dapatkan secara tidak langsung dari apa yang ia dengar, apa yang ia lihat, selama ia hidup.

Semoga kepada kita para pembaca sekalian, bisa menjadikan kisah ini tauladan untuk bisa mencitai dan meneladani Rasul seumur hidup kita. Mudah mudahan kita juga bisa belajar dari apa yang telah dibuktikan oleh uwais, walau hari ini kita tidak bisa bertemu langsung dengan Nabi Muhammad SAW, namun kita senantiasa untuk setia, patuh dan menjalankan semua sunnah dan perintahnya untuk beribadah dijalan dan agama yang di Ridhoi oleh ALLAH SWT

Muslimah Australia Cetak Sejarah

Amna Karra-Hassa
Melalui olah raga, kaum muslim rupanya berhasil mengikis stigma negatif masyarakat Negeri Kanguru
Ganufa - Muslimah Australia sebentar lagi akan mencetak sejarah. Sebab, tim football yang seluruhnya beranggotakan muslimah, Auburn Giants, bulan depan akan tampil dalam pertandingan amal di Melbourne Cricket Ground (MCG).
"Kesempatan bermain di MCG, meskipun ini pertandingan amal, menjadi impian banyak orang," kata pemain dan pendiri klub Auburn Giants, Amna Karra-Hassan, sebagaimana dikutip Dream dari On Islam, Kamis 14 Mei 2015.
Klub Auburn Giants mulai bertanding dalam liga sepakbola dan rugby di wilayah Sydney barat. Penampilan amal di MCG yang prestisius itu akan 14 Juni mendatang, menjelang pertandingan antara klub Collingwood melawan Greater Western Sydney.
Eksebisi pada 14 Juni itu akan menjadi yang pertama bagi tim muslimah. Penampilan itu digelar sebelum pertandingan Australia Football League (AFL) di MCG.
Melalui olahraga, kaum muslim rupanya berhasil mengikis stigma negatif masyarakat Negeri Kanguru. Mereka bisa bersosialisasi dengan masyarakat nonmuslim melalui sepak bola khas Australia yang populer disebut footy itu.
"Tak ada keraguan dalam benak saya bahwa setiap kisah negatif tentang muslim memerlukan lebih dari 10 kisah positif untuk menghilangkannya," tutur Amna. Melalui pertandingan amal di MCG itu, diharapkan citra kaum muslim di Australia semakin baik

Kisah Kiki Penjual Cobek Undang Haru Netizen

Kegigihan Kiki menjadi perbincangan riuh di dunia maya, Tidak sedikit netizen yang menyatakan ingin memberikan bantuan.
Ganufa - Kisah Kiki si penjual cobek di bilangan Pondok Indah, Jakarta mengundang keharuan para netizen. Banyak komentar muncul terkait berita ini, yang sebagian besar berisi kalimat mendoakan.
Salah satunya dari pemilik akun facebook Yulia Salma. Ia menulis kalimat berisi doa dan penyemangat bagi Kiki.
"Ya Allah mudahkanlah ringankanlah beban yang ada di pundak anak ini semoga Allah selalu menyertaimu nak dan semoga orang-orang yang melihatmu meringankan beban mu, dan percayalah Allah pasti memberikan mimpi yang terindah buatmu nak. Karena engkau mau berjuang keras dan hasilnya kelak akan nikmat engkau rasakan," tulis pemilik akun, diakses Dream.co.id pada Kamis, 14 Mei 2015.
Tidak sedikit pula netizen yang menawarkan bantuan. Sebagian dari mereka ingin menjadi orang tua asuh bagi Kiki.
"Aku pengen ngambil dia jadi anak angkat. Semoga kita bisa bertemu adek," tulis pemilik akun Izmi Adiana.
Hal senada juga diungkapkan pemilik akun Bunda Hafiz. Pemilik akun ini bersedia menyekolahkan Kiki.
"Bagi yang tahu keberadaan Kiki, tolong kabari kami. Kami ingin membantu Kiki dengan menyekolahkan kembali dan gabung di rumah tahfidz," tulis pemilik akun

Kisah Kakek yang Tetap Ikhlas Bekerja Sebagai Sopir Angkot

Di usia senjanya, Yusuf Supriyatna memilih terus mencari nafkah. Ia pun berusaha selalu ikhlas dalam menjalani pekerjaannya.
Ganufa - Yusuf Supriyatna sudah berusia uzur, 72 tahun. Lazimnya pria seusia itu selalu menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah dan menikmati hari tua dengan kegiatan ringan.
Tetapi, bagi Yusuf hal itu tidak berlaku. Meski sudah uzur, ia tetap mencari nafkah sebagai sopir angkot.
Tidak hanya itu, Yusuf ternyata cukup berbeda dengan sopir lainnya. Ia begitu ikhlas dalam menjalani hari-harinya sebagai sopir.
Kisah tentang Yusuf disaksikan sendiri oleh Meirna Nurdini Thomas. Ia menceritakan keikhlasan Yusuf dalam tulisan yang diunggah di akun facebook miliknya.
Meirna bertemu Yusuf saat ia bepergian di pagi hari menggunakan angkot Elang Gedebage, angkot yang dikemudikan Yusuf. Saat itu, ia melihat seseorang menghampiri angkot dan memasukkan air kemasan.
Yusuf memasukkan air itu ke dashboard. Ia memilih untuk tidak menyentuh air itu.
"Air ini enggak saya minum, Neng. Haram. Kenapa haram? karena bukan dari hasil jual beli atas kesepakatan, tapi pemaksaan. Filosopi jual beli adalah si pembeli membutuhkan, dan penjual memiliki barang yang kita butuhkan. Ini, saya tidak butuh, karena saya bawa minum dari rumah. Ini namanya jual paksa. Tapi, ya, bapak mah ikhlas aja, karena rejeki bapak sudah diatur oleh Allah. Tidak akan berkurang karena itu," kata Yusuf.
Beberapa saat kemudian, angkot tersebut berhenti tidak jauh dari perempatan Pondok Kelapa. Seorang anak turun dari angkot itu dan memberikan beberapa keping uang.
Yusuf menerima uang itu. Jumlah uang itu masih kurang dari ongkos yang telah ditetapkan. Tapi Yusuf tidak menagih sisa ongkos yang belum dibayar.
Hal itu membuat Meirna jengkel kepada si anak. "Dasar anak-anak, dimaklumi ya pak," katanya kepada Yusuf.
Yusuf malah membalas dengan jawaban mengejutkan. Ia justru mengingatkan kesalahan itu tidak layak ditimpakan ke anak tadi.
"Anak itu enggak salah, Neng. Namanya anak-anak, tergantung ajaran orang tuanya. Nggak apa-apa, kan rezeki bapak mah sudah diatur oleh Allah," kata dia.
Terlibat perbincangan antara Yusuf dengan Meirna. Wanita itu bertanya mengapa Yusuf masih mau mengemudikan angkot di usia senjanya.
Yusuf kemudian menunjukkan identitasnya berupa KTP dan kartu Pensiunan TNI Angkatan Darat.
"Alhamdulillaah, selalu dikasih sehat oleh Allah, namanya kerja ngeluarin tenaga pasti fisik mah capek, tapi sepanjang kita ikhlas Insya Allah sehat terus. Namanya ikhtiar kita harus sabar dan ikhlas. Dan yang utamanya adalah harus yakin kepada Allah. Kalau kita tidak yakin, percuma. Pasti yang kita dapat hanya capek, dan jangan lupa ngado'a," katanya,
Selain itu, Yusuf memiliki alasan sendiri mengapa masih bekerja meski sebenarnya dia punya dana pensiunan. Baginya, meski mendapat uang pensiun, kewajibannya mencari nafkah tidak lantas hilang

Rabu, 06 Mei 2015

Hidup Sukses Tak Perlu Nama Besar Orangtua!

Jangan pernah takut untuk kreatif dan menunjukkan nilai plus pada orang lain. Hindari merasa sungkan untuk terjun langsung menggarap ide, mengorbankan waktu, dan menikmati usaha yang sedang berjalan walau sulit
 
KOMPAS.com - Setiap anak punya hak untuk sukses, tak peduli siapa pun orangtuanya. Maka, semua anak punya hak yang sama untuk bermimpi.

Kuncinya, jangan takut menggali potensi dan passion mereka sebagai anak. Hal pertama harus dilakukan adalah menantang diri untuk berani memulai dari hal kecil.

Contohnya Putri Tanjung yang berhasil memantapkan jejak suksesnya sendiri. Lepas dari nama besar ayahnya, Chairul Tanjung, Putri memulai semua dari event organizer kecil. Pada 2011, Ia membangun El Paradiso yang menyelenggarakan acara ulang tahun dan berbagai pesta lainnya.

Tentu saja, usaha tidak boleh berhenti. Keberhasilan besar diraih jika seseorang berani menantang diri terjun ke bidang lebih besar.

Menurut Putri, kesuksesan anak sangat ditentukan oleh pendidikan yang diberikan orangtua. Dalam keluarganya, tak ada istilah menuruti semua keinginan anak. Dia mengaku, sejak kecil ia diajarkan bahwa tak ada hal instan dan mudah di dunia ini.
Putri mengaku tak mudah puas dalam berwirausaha. Setelah usahanya sukses, El Paradiso pun berubah nama menjadi Creativepreneur Event Creator. Ia pun mengambil langkah maju membuat talk show wirausaha kreatif yang terkenal dengan nama 'Creativepreneur Corner'.
"Tentu, tak ada jalan yang mudah. Untuk membuat acara ini berhasil, saya dan tim sempat ditolak oleh belasan sponsor. Dianggap memiliki ide aneh. Tapi begitulah, kita harus berusaha karena tak ada sesuatu yang mudah,” ujarnya.

Ya, jangan pernah takut untuk kreatif dan menunjukkan nilai plus pada orang lain. Menurut dia, jangan pernah sungkan untuk terjun langsung menggarap ide, mengorbankan waktu, dan menikmati usaha yang sedang berjalan walau sulit.
Dia mengatakan, jerih payah pasti akan berbuah manis. Pada Creativepreneur Corner 2014 lalu Putri berhasil mengajak ribuan anak muda hadir ke acara pertamanya itu. Bahkan, tiket acara ini sold out hanya dalam dua minggu.

Tahun ini, Putri kembali menyelenggarakan Creativerpreneur Corner 2015 yang tak kalah suksesnya dengan acara pertamanya. Tahun ini, tiket sold out hanya dalam waktu 4 hari.
Setelah Creativepreneur Corner, Putri juga berhasil mengadakan festival musik Creativepreneur Berjuang. Kerja keras Putri bahkan membuatnya tercatat dalam Prestige Magazine 40 Under 40 sebagai The Youngest Rising Creative Entrepreneur 2014.
Kesempatan bagi sesama
Keberhasilan akan lebih baik jika didampingi dengan aksi sosial. Di setiap sisi kehidupan kita bisa melihat masih banyak orang yang membutuhkan. Seperti halnya Putri, yang di sela kesibukannya masih dapat berperan di kancah sosial lewat SMA Selamat Pagi Indonesia (SMA SPI).

Berlokasi di kota Batu, Malang, SMA SPI mengutamakan pendidikan siswa yang kurang mampu dalam segi finansial. Sekolah membebaskan siswa dari biaya bulanan, memberikan biaya hidup harian siswa, dan fasilitas asrama.
"Sekolah ini berbeda dari sekolah lain, apalagi zaman sekarang banyak sekolah yang malah komersil hanya mau menerima murid dari kalangan atas aja. Oleh karena itu aku mendukung sekolah ini," kata Putri.

SMA SPI menyentuh hati karena mendidik siswanya untuk menjadi manusia yang cerdas sekaligus mampu bertahan dalam kehidupan nyata. Untuk menumbuhkan potensi jiwa enterpreneur muda pada para siswanya, SMA SPI ini pun memberikan mata pelajaran wirausaha dan wawasan finansial dengan menggunakan pola pendidikan berbasis IT.
Agar sekolah dapat terus berjalan, Putri pun ikut serta menggalang dana bantuan untuk membangun fasilitas dan perawatan SMA SPI agar proses belajar mengajar jadi lebih efektif dan efisien dilakukan.
"Masih banyak anak Indonesia berpotensi tapi kurang mampu. Kesempatan untuk berkarya seakan tertutup untuk mereka. Saya bisa ikut memberi mereka kesempatan, ayo ikut beri mereka kesempatan," kata Putri.
Ayo, bantu SMA Selamat Pagi Indonesia bersama Putri melalui GrabTaxi. Di setiap pemesanan dengan kode "PUTRISPI", Anda sudah berdonasi sebesar Rp2.500 sekaligus mendapatkan potongan pembayaran Rp15.000
 

Selasa, 05 Mei 2015

Ketika Imam Masjid Membalas Hinaan Pemuda Amerika

Syamsi Ali, Imam Masjid di New York, Amerika Serikat asal Indonesia 
Setiap agama senantiasa mengajarkan kebaikan kepada umatnya. Tak terkecuali Islam sebagaimana yang tertera di dalam kitab suci Al Quran. Dianjurkan agar membalas perbuatan jahat yang dilakukan oleh orang lain dengan sikap yang baik. Memang diperbolehkan membalas setara dengan apa yang telah diperbuat oleh orang lain. Tetapi akan lebih mulia jika membalas dengan perbuatan yang baik.
Seorang Imam Masjid di Amerika, Syamsi Ali, pada suatu ketika didatangi oleh seorang warga Amerika yang phobia terhadap Islam. Imam yang merupakan warga asli Indonesia ini dicerca dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati. Walau tidak menyentuh fisik namun pemuda yang sedang tersulut emosi tersebut menyemprot dengan ekspresi geram.

Cercaan tersebut sebenarnya tidak tertuju pada dirinya pribadi atau keluarga. Juga tidak mengarah kepada negara tempat ia berasal yang dihuni muslim terbesar di dunia. Tetapi dituju kepada seseorang yang dimuliakan dalam Islam. Panutan yang menjadi teladan khususnya bagi diri sang imam tersebut. Nabi Muhammad SAW.

Syamsi Ali hanya bisa menahan amarah di dalam hati. Sambil sesekali dalam hatinya mengucapkan kalimat istighfar. Dengan tetap bersabar memperlihatkan sikap ramah kepada pemuda tersebut seakan tak ada amarah di hatinya.

Syamsi sepertinya paham betul dengan apa yang telah diteladani oleh Nabi Muhammad SAW. Membalas reaksi dengan sikap tidak melawan dan tetap ramah sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi yang pernah menghadapi cercaan dari umat terdahulu. Senantiasa berusaha untuk berprasangka baik. Membalas perbuatan jahat dengan kebaikan.

Setelah pemuda tersebut puas melampiaskan kekesalannya terhadap Islam, lalu ia pergi meninggalkan Imam Masjid kelahiran Tanah Toa, Sulawesi Selatan tersebut. Selang beberapa minggu, sang pemuda Amerika itu kembali menemui Syamsi. Kedatangan keduanya untuk melakukan pelampiasan. Bukan melampiaskan kemarahan seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. Tetapi melampiaskan rasa penasaran atas sikap Syamsi yang tidak melawan saat dicerca dengan kata-kata hujatan. Membuat sang pemuda mulai kagum terhadap Imam Masjid di Kota New York tersebut.

Mereka berkomunikasi secara dingin. Terlihat mulai akrab. Tidak seperti beberapa waktu lalu yang terbakar amarah. Syamsi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal di hati pemuda tersebut. Percakapan berlangsung damai. Tak ada percikan emosi. Tak ada dendam. Namun goresan senyuman yang terlihat di wajah mereka. Hingga akhirnya sang pemuda Amerika tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar” (QS Fushilat [41]: 34-35)

(Disadur dari pengalaman Imam Masjid Amerika saat diundang pada acara Islam Itu Indah Trans TV

Kisah Inspiratif Seorang Penjaja Koran

Judul       : Tidur Berbantal Koran: Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan
Penulis     : N. Mursidi
Penerbit   : Elex Media Komputindo
Cetakan   : Pertama, 2013
Tebal       : xiv + 245 halaman
ISBN       : 978-602-020-594-6
Harga      : Rp. 44.800,-

Nama N. Mursidi bisa dibilang bukan nama baru di kancah kepenulisan, terutama majalah dan koran. Hampir setiap hari Minggu namanya menghiasai kolom-kolom opini, resensi, esai atau cerpen beberapa koran nasional. Semua itu bukan dilaluinya dengan mulus. Jalan terjal dan berliku kerap ditemuinya sejak kali pertama menapaki dunia kepenulisan. Pahit-manis dan jatuh-bangun sudah dilaluinya selama menjalani proses kepenulisan. Tak sekali pun dia mengambil “jalan pintas” dengan memplagiat karya orang lain seperti yang akhir-akhir ini terjadi dan sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial Facebook dan Twitter.


Jalan kepenulisan yang dilalui N. Mursidi bisa dibilang karena sebuah “kecelakaan” sejarah hidup yang ditempuhnya. Sebelumnya dia tak pernah sekali pun bermimpi menjadi seorang penulis apalagi wartawan. Di antara keluarganya dia bisa dibilang anak yang kurang membanggakan, terutama jika dibandingkan dengan adik dan kakaknya yang mampu menorehkan prestasi dan berhasil lolos seleksi masuk di sekolah Negeri. Sementara N. Mursidi hanya “mentok” di sekolah swasta semenjak lulus Sekolah Dasar.
Buku memoar Tidur Berbantal Koran ini menceritakan rekam-jejak kepenulisan serta perjalanan N. Mursidi sejak kali pertama merantau ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi swasta--setelah sebelumnya berkali-kali gagal mengikuti UMPTN. Orangtua N. Mursidi hanya seorang pedagang pakaian. Mereka menyarankan anak-anaknya untuk masuk sekolah atau perguruan tinggi Negeri agar biaya SPP-nya lebih ringan.
Tapi, N. Mursidi berusaha meyakinkan kedua orangtuanya. Kelak di Yogyakarta dia akan bekerja sampingan demi memenuhi kebutuhan biaya kuliahnya. Karena dia tidak yakin mampu membiayai kuliah jika hanya mengandalkan kiriman orangtua.
Kekhawatiran orangtuanya terbukti. Setelah menjalani semester pertama, N. Mursidi tidak mampu lagi membayar SPP. Apalagi, dia mendapat kabar dari kampung bahwa Ayahnya sakit dan sudah tidak bisa bekerja lagi di pasar. N. Mursidi terpaksa harus berhenti kuliah. Karena untuk mengambil cuti, di kampusnya ada peraturan minimal mahasiswa sudah menjalani masa kuliah selama dua semester (halaman 43).
Tapi, N. Mursidi tidak menyerah begitu saja. Dia pantang pulang kampung demi harga dirinya, meskipun berkali-kali Ibunya menyuruh pulang untuk membantu berdagang di pasar untuk melanjutkan usaha Ayahnya. N. Mursidi tetap memilih hidup di kota Gudeg dengan bekerja sebagai penjual koran, sebuah pekerjaan yang sudah dijalaninya sebelum memutuskan berhenti kuliah. Keputusan untuk berjualan koran itu dilakukannya setelah mendapat tawaran dari salah seorang teman satu kontrakan yang juga teman masa kecilnya di kampung.
Sejak itulah dia mengenal dan menghirup aroma kehidupan di jalanan. Berpindah-pindah dari bus satu ke bus lainnya sudah menjadi rutinitasnya setiap hari. Di jalanan itu dia mengenal kerasnya hidup di kota besar seperti Yogyakarta. Berjuang demi mempertahankan hidup bersama teman-teman sesama pedagang asongan di jalanan.
Aroma dan aksi kejahatan di depan mata kerap juga ditemuinya di jalanan. Dia banyak mengenal preman atau pencopet selama berjualan koran dari bus ke bus. Hatinya berontak dan ingin berteriak setiap kali melihat aksi kejahatan di depan matanya, terutama ketika di dalam bus dia melihat aksi beberapa pencopet yang dengan gesit memindahkan dompet penumpang ke tangannya. Tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan aksi para pencopet itu. Dia sudah diberi isyarat dengan “kedipan mata” agar diam melihat kejadian itu. Kernet bus pun tahu apa yang dilakukan oleh para pencopet itu. Tapi, dia diam saja seakan tidak terjadi apa-apa (halaman 51).
Sementara itu, keputusan N. Mursidi untuk belajar menulis secara autodidak bermula dari sebuah kejadian, yaitu ketika seorang abang becak membeli korannya. Abang becak itu mengatakan, kalau dia tidak ingin ketinggalan informasi meskipun profesinya hanya sebagai tukang becak. N. Mursidi terenyuh sekaligus tersindir. Dia yang setiap hari bersentuhan dengan koran tak sekali pun tertarik untuk membaca koran yang dijualnya, kecuali hanya sekilas di halaman depan koran. Dia pun mengikuti jejak abang becak dengan membaca koran-koran yang dijualnya (halaman 5). Di koran itu dia sering melihat kolom-kolom resensi buku, opini atau cerpen yang ditulis oleh mahasiswa. Dia berpikir, kalau mereka bisa, kenapa dia tidak? Bukankah dia juga pernah menjadi mahasiswa?
Pikiran-pikiran itu membuatnya ingin belajar dengan serius dari koran-koran yang dibacanya. Secara autodidak dia mulai menulis dan mengirimkannya ke media di media-media lokal di Yogyakarta.Berkat kegigihannya belajar menulis secara otodidak itulah, dia tidak hanya berhasil menembus media lokal, tapi merambah media nasional seperti harian Seputar Indonesia, Detik, Jawa Pos, Kompas dan yang lainnya. Bahkan, dia berhasil menjadi seorang wartawan dan tulisan-tulisannya mulai bertebaran di banyak media.
Buku setebal 246 halaman ini mengajak pembaca menapaktilasi perjuangan hidup sekaligus memaknai betapa kerasnya kehidupan. Bahwa hidup bukan sekadar untuk bersantai-santai dengan membuang waktu secara percuma. Semua orang—termasuk orang miskin—juga bisa bermimpi untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Berjuang dengan tidak pernah kenal lelah dan takut dalam berusaha. Seperti yang dikatakan Andrew Jackson, “Musuh paling berbahaya di atas dunia ini adalah penakut dan bimbang. Teman yang paling setia hanyalah keberanian”

Kisah Inspiratif Kakek yang Minta Sekolah

SEPANJANG menonton film ini saya hanya terpana, bersungut sungut. Bahkan geleng-geleng kepala saja tampaknya belum cukup menggambarkan kekaguman saya akan tokoh inti di film tersebut, kok ada kisah seperti ini.
Geli, sedih, kagum, rasa tak percaya seperti mixed menjadi satu. Baz Bamigboye (Daily Mail) mengatakan,”Moves you in the most wonderfil way.” Whoopi Goldberg menyatakan, “a great movie.” Dan saya mengatakan,” sebuah kisah luar biasa, tak akan lekang oleh waktu.” Mungkin kalimat tersebut belum bisa mewakili pendapat akan film ini.
The First Grader, Sudah Kakek-kakek Masih Minta Sekolah, sebuah kisah nyata yang akhirnya mendunia dan diangkat ke layar lebar oleh Sony Pictures dengan durasi 109 menit.
Film berjudul The First Grader ini diperankan oleh Naomie Harris yang berperan sebagai seorang kepala sekolah tingkat sekolah dasar di Kenya. Ia berperan sebagai Jane Obinchu istri dari seorang konsultan perusahaan terkenal Charles Obinchu.
Tokoh inti film ini Kimani Ng’ang’a Maruge (84) yang diperankan sangat apik oleh Oliver Litondo. Film yang disutradarai oleh Justin Chadwick ini bahkan memenangkan Durban International Film Festival Audience Award dan Doha Tribeca Film Festival Grand Prize.
Cerita ini menggambarkan sikap patriotisme seorang warga Kenya yang menginginkan Kenya merdeka dari Koloni Inggris. Maruge lahir pada tahun 1920 dan meninggal pada tahun 2009, ia merasakan penyiksaan di selama beberapa tahun.
Di Kenya pada tahun 1953 terjadi peningkatan kekerasan melawan Koloni Inggris. Ribuan korban terbunuh dan lebih dari jutaan Suku Kikuyu ditahan di kemah penahanan dan Maruge satu di antaranya menjadi korban kekerasan serta penahanan. Konflik ini akhirnya menuju kemerdekaan tapi kasus kekerasan kebanyakan tidak pernah terpecahkan.
Di tiap adegan semua penuh kejutan, seperti koki yang mampu meramu masakan yang lezat Justin Chadwick bisa membuat mata tak lepas dari layar. Adegan-adegan disusun dengan penuh perhitungan sehingga tidak membosankan.
Kisah berawal dari penyiar radio, layaknya seorang narator mengumumkan adanya pendidikan bagus semua orang. “Masyarakatku pemerintah mengumumkan pendidikan untuk semua orang, yang mereka inginkan adalah agar kalian bangkit,” ujarnya lantang dan penuh semangat.
Scene berikutnya tentang kesibukan di sebuah sekolah dasar di saat pendaftaran. Jangan dibayangkan bangunan sekolah dengan jumlah guru yang memadai seperti kondisi di kota-kota besar di Indonesia, namun sebuah gedung sekolah dengan bangunan memprihatinkan. Pagar kawat berduri yang berkarat, serta halaman yang gersang tandus serta berdebu.
Saat pendaftaran ribuan anak dan orang tua berdesak-desakan, muncul seorang tua dengan menggunakan tongkat. Langkahnya pelan dan terpincang-pincang, Maruge sosok seorang lanjut usia, penuh keriput di wajah mencoba dekati kerumunan.
Maruge membawa selebaran berisi kampanye pemerintah yang bertuliskan pendidikan untuk semua. Jane Obinchu menemuinya bersama seorang guru laki-laki (Alfred).
Jane mengatakan bahwa pendidikan hanya untuk anak-anak bukan orang dewasa, namun Maruge menjawab, ia telah mendengar di radio. “Aku dengar di radio dengan telingaku sendiri, pendidikan untuk semua,” kata Maruge.
Sungguh hal yang luar biasa, ada seorang yang sudah dimakan usia namun memiliki semangat yang luar biasa untuk sekolah.
Alfred terlihat sangat menentang kehadiran Maruge untuk bergabung, ia kemudian mengatakan pada Jane.
“Kita memiliki 200 murid dan hanya 50 meja, lihatlah. Kita tak bisa menghamburkan untuk orang tua yang bau tanah,” kata Alfred.
Ia kemudian menoleh ke Maruge.
“Mana buku latihanmu? Kau memerlukannya.Dengan sebuah pensil tajam dengan karbon di ujungnya.
Itu peraturannya,” kata Alfred dengan nada tinggi.
Alfred berlalu, kemudian Jane berkata, “maaf kami tak bisa menerimamu”.
Bukan Maruge kalau menyerah, pejuang ini di hari berikutnya datang membawa buku dan pensil. Kembali Alfred menunjukkan perilaku yang tak senang.
“Pulanglah aku tahu hidupmu sulit, Pulanglah dan istirahatlah selamanya (rest in peace),” kata Alfred jengkel.
“Rest in peace?” Tanya Maruge.
“Namaku Kimani Ng’ang’a Maruge,” katanya.
Alfred langsung merespon.
“Baiklah Kimani Ng’ang’a Maruge. Kami tak bisa menerima seseorang yang tidak mengenakan seragam.
Dan itu artinya sepatu sekolah juga. Dan kau tak punya uang untuk itu,” kata Alfred tegas.
Jane yang sebelumnya dipanggil Alfred mendekati Maruge, tatapan heran, seolah wajahnya penuh tanda Tanya besar
“Kenapa orang setua kau ingin pergi sekolah?” Tanya Jane.
“Aku ingin belajar membaca,” jawab Maruge singkat.
“Kami sudah memiliki banyak murid. Kuharap aku bisa membantu, maafkan saya,” kata Jane, ia kemudian masuk ke ruang sekolah.
Maruge yang berdiri di luar pagar langsung pulang dengan langkah cepat.
Di rumah ia membuka sebuah surat di kop surat ada lambang negara Kenya tertulis surat presiden. Surat ini menjadi satu motivasi besar Maruge. Ia yakin surat itu sangat penting dan berarti baginya dari Presiden Kenya, dan hanya dia yang boleh membacanya. Maka ia bertekad untuk belajar membaca agar mengetahui isi surat tersebut.
Jane yang pulang ke rumah ditemani suaminya Charles Obinchu.
“Kau tahu orang tua yang aku ceritakan dia kembali lagi,” kata Jane pada suaminya..
“Kuharap kau tak mengizinkannya masuk. Kenapa kau melawannya bila tak bisa menang dengan mencari tugas lebih?” kata Charles.
Charles kemudian mengajak istrinya agar bersedia tinggal di Nairobi, namun Jane menolak karena menurutnya anak-anak membutuhkan kehadirannya.
Adegan berikutnya menunjukkan Maruge menjual ayam, ia mendapatkan uangnya lalu membeli kemeja dan celana. Ia membeli baju bekas, dan di rumah celana bekas dipotong dan dijahit tangan oleh Maruge menjadi celana pendek.
Hmmmmmmmm sebelum nonton adegan ini, saya merasa geli membayangkan seorang kakek yang menggunakan seragam. Dan memang benar setelah melihat adegan ini tawa tak bisa ditahan seorang kakek-kakek memakai baju seragam bercelana pendek kaus kaki panjang dan sepatu, berjalan tertatih membawa tongkat.
Pijar wajahnya terlihat, dengan penuh semangat ia berjalan menuju sekolah.
Jane sedang menelepon Kipruto, pengawas sekolah yang ia pimpin. “Kami butuh tambahan lima meja, ada murid yang bahkan duduk di lantai. Mereka tak bisa belajar dengan kondisi seperti ini mister Kipruto,” katanya.
Tiba-tiba dating Alfred. “Apa yang harus kulakukan,” tanya Alfred pada Jane.
Lalu Jane menemui.
“Kau tidak mudah menyerahkan Maruge? Tanya Jane.
Alfred kepada Jane,”kau tidak bisa, kau bisa menyulitkanmu jika kau membiarkannya masuk”.
Dia benar Maruge, apa yang harus kukatakan pada dewan pendidik? Apa yang akan kukatakan pada orangtua murid?” Ujar Jane pada Maruge.
“Aku akan menjadi orang baik, aku akan bekerja keras,” kata Maruge
Alfred kemudian mengatakan,” jika Kipruto menemukan…..”
Belum selesai Alfred bicara, Jane memotongnya.
“Kipruto bukan pemimpinnya di sini, Alfred. Aku pemimpinnya. Biarkan dia masuk, aku membuat keputusan eksekutif. Biarkan Maruge masuk. Maruge selamat datang,” kata Jane.
Maruge tersenyum selayaknya taman cahaya, seolah di wajahnya memiliki pendar dan kilau yang terang. Wajahnya menunjukkan rasa senang yang tak terukur. Dengan langkah mantap dia masuk ke ruang sekolah.
Ketika Maruge masuk anak-anak tertawa.
“Semua, kita ada murid baru hari ini. Namanya Maruge,” kata Jane pada anak-anak di kelas.
Seisi kelas mengatakan selamat datang pada Maruge, terdengar beberapa siswa tertawa cekikikan
“Aku datang untuk belajar bersama kalian,” jelas Maruge.
Maruge mulai menulis, awalnya cara memegang pensil salah seperti memegang pisau, ia kemudian diajari cara memegang pensil dengan benar.
Senyum kebahagiaan terpancar. Matanya yang buram karena usia terlihat bercahaya. Layaknya seorang anak yang baru saja menerima pemberian sepeda baru untuk pertama kalinya wajahnya berseri-seri, sungguh.
Di buku catatan Jane menuliskan Nama Kimani N’gang’a Maruge, siswa nomor 207, berumur 84 tahun, perbedaan yang mencolok dengan siswa lainnya yang berusia 5 hingga 10 tahun.
Di jalan ia bertemu pria seumuran yang mengajaknya mabuk. Maruge menolak dan mengatakan pada mereka untuk diam karena dia anak sekolahan.
Di rumah maruge mencoba apa yg dipelajari sekolah untuk membuat huruf a kecil, lalu di luar rumahnya ada seseorang yang berteriak, “kau sudah tua kenapa bersekolah.”
Kemudian kilasan masa lalu tentang kekerasan yang dialami. Beberapa tentara kulit hitam didampingi tentara kulit putih memukuli kerabat dan saudara Maruge.
Di sekolah, pada jam istirahat di hari berikutnya, seorang siswi berkaki pincang mendatangi Maruge.
“Apa kau sakit?” Tanya anak itu pada Maruge.
“Oh tidak, aku tidak sakit, telingaku tidak begitu bagus,” jawab Maruge.
“Saat aku dewasa nanti, aku akan menjadi dokter dan akan mengobatimu,” kata si anak.
Setelah mendengar perkataan anak kecil itu wajah Maruge menatap nanar. Terlihat kesedihan yang mendalam. Bayangan keluarganya muncul, anak perempuannya yang kecil, saat itu berada di ladang. Lalu tampak senyuman istrinya dengan deretan gigi putih sempurna.
Bunyi besi dipukul terdengar, tanda istirahat usai, anak itu menggandeng Maruge masuk kelas. Keduanya jalan pincang.
Di kelas Maruge menunjukkan perilaku aneh, ia ternyata trauma dengan pensil tajam. Di kamp penyiksaan sebuah pensil tajam dicucukkan ke telinga kananya. Hal tersebut menunjukkan kenapa ia memiliki pendengaran yang kurang.
“Maruge pensil kamu tumpul, contoh apa yang kau berikan pada siswa segera serut dan jangan diulangi lagi,” kata Alfred.
Tampak raut muka takut ketika melihat pensilnya yang tumpul. Maruge kemudian berjalan pelan menuju tempat menyerut pensil.
Matanya sayu, ada sesuatu yang mengganggunya. Ia ragu untuk memasukkan ujung pensil ke serutan.
Ia berdiri lama, pelan-pelan pensil dimasukkan ke serutan pensil. Namun tak mampu, seolah menjadi kesulitan yang sangat besar untuk melakukannya.
Lalu muncul gambaran seorang tentara menyerut pensil. Pensil sangat tajam.
“Jadi kau sekarang bisa mendengar dengan lebih baik,” kata seorang tentara berkulit putih.
Lalu pensil itu ditunjukkan. Pensil dengan serutan yang sangat tajam.
Kepala Maruge dipegang. Tentara kulit putih memberi pensil pada tentara kulit hitam. Kepala Maruge dipegang tentara lain, sementara tentara satunya mengarahkan ujung pensil yang tajam ke telinga maruge.
Ujung pensil yang tajam dicucukkan ke lubang telinga Maruge dengan cepat dan keras. Hentakan keras seperti memukul. Teriakan keras terdengar dari mulut Maruge muda.
Maruge berteriak sangat keras.
Kamau (seorang siswa) mendekat dan mencoba membantu namun tiba-tiba Maruge menyikut kamau
Kamau jatuh.
Jane memegang Maruge dan membawanya keluar.
Maruge diberi minum, Jane mengatakan mungkin ini bukan tempat Maruge, namun Maruge berjanji hal tersebut tak akan terjadi lagi.
Saat ditanya apa itu (menunjuk luka di wajah maruge).
“Aku dulu di kemah (kamp penyiksaan),” kata Maruge.
Kamu seorang Mau Mau (pejuang)?
Maruge mengangguk dan bilang ya dengan mata berkaca-kaca.
“Ceritakan apa yang terjadi di kelas Maruge,” kata Jane.
Namun ia diam, kemudian mengatakan akan menuju kelas untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Adegan selanjutnya kilasan tentang sebuah upacara. Ada seekor kambing yang siap disembelih.
Sebuah upacara mengambil sumpah setia untuk tanah dan kebebasan Kenya.
“Orang-orang kulit putih tak akan menyiksa kita lagi. Mereka tak akan mengambil tanah kita dan membunuh keluarga kita lagi. Jika kulanggar sumpah ini. Biarkan aku dibunuh sumpah ini,” kata pemimpin upacara.
Usai sumpah muncul adegan yang menunjukkan segerombolan kulit hitam yang masuk ke rumah kulit putih. Mencuri senjata di dalamnya dan berlari. Ada yang ditembak tentara dan tewas.
Maruge muda satu di antaranya, ia berhasil lolos. Maruge menyembunyikan senjata curian tersebut di semak-semak. Adegan terpotong.
Adegan berikutnya, ada seorang siswi bertanya pada Maruge, tentang gelang timah yang ia kenakan di tangan kiri.
Maruge bilang ia seorang tahanan. Lalu ditanya apakah ia melakukan sesuatu yang salah?
“Orang-orang kulit putih, Inggris mencuri tanah kita jadi mereka harus mengembalikannya. Mereka menyuruh kita diam, jadi kita berbicara dengan sangat keras,” kata Maruge.
Lalu murid lain bertanya, “mereka mengembalikan?”
“Dikembalikan kepada beberapa pada tahun 1963. Uhuru apa artinya uhuru? Freedom (kebebasan),” kata Maruge.
Lalu Maruge teriak freedom, anak-anak menirukan freedom. Ia meneriakkan uhuru, anak-anak juga mengikutinya.
Layaknya sebuah orasi unjuk rasa, Maruge berteriak lantang dan diikuti anak-anak.
Alfred dari kejauhan menyaksikan peristiwa aneh dan berbicara pada Jane. “Apa ini, tampaknya akan menjadi masalah bagi kita semua,” kata Alfred.
Adegan selanjutnya tentang penyiksaan, puluhan warga kulit hitam yang dianggap sebagai pemberontak ditelanjangi, dipukuli, disemprot air. Satu persatu dibawa di ruangan. Tampak seorang yang diikat dan digantung terbalik tak lain itu Maruge muda.
Tentara kulit putih bicara, “dengar temanku kau tidak harus seperti ini. Batalkan sumpahmu dan kau boleh pulang.”
Maruge hanya diam
“Batalkan sumpahnya,” teriak tentara kulit putih tersebut.
Tentara itu kemudian bilang ‘again”.
Lalu tentara kulit hitam mencambuk Maruge. Dari punggungnya darah menetes basahi lantai membuat genangan seperti tetes air hujan di lantai, hanya saja kali ini berwarna merah.
Scene lain, tampak seorang yang memortret Maruge yang beraktivitas di SD dari kejauhan. Lalu terdengar seorang penyiar radio, bilang ada seorang pria tua datang ke sekolah.
“Pria tua ke sekolah, sulit dipercaya,” katanya kemudian tertawa.
Kamau seorang siswa kembali salah menulis angka 5, sementara Maruge berhasil menyelesaikan tugas dengan baik.
Saat jam istirahat, ada seorang siswa yang memukul dan menendang temannya. Maruge datang menghampiri menghalau dan ganti memukul anak tersebut. Alfred dan Jane berusaha mencegah dan melerai kejadian tersebut.
Kipruto datang saat Jane dan Alfred menghalangi apa yg dilakukan Maruge.
Kipruto teriak, ”ada apa ini? Awalnya aku tak percaya ada wartawan yang telepon dan tanya ada seorang pria tua di sebuah sekolah dasarku. Siapa dia kenapa dia menggunakan seragam sekolah?”
Terjadi perdebatan keras antara pengawas sekolah, Kipruto dengan kepala sekolah, Jane.
“Dia tak bisa di sini,” kata Kipruto pada Jane.
“Dia berjuang melawan Inggris dia disiksa di perkemahan,” kata Jane tak kalah lantang.
“Tipe Kikuyu harusnya aku tahu,” kata Kipruto.
“Kupikir kesukuan sudah berakhir,” balas Jane.
“Ini tidak berhubungan dengan kesukuan. Ini terkait ketepatan penddidikan, seorang pria tua sepertinya tidak bisa berada di kelas yang penuh dengan anak-anak,” kata Kipruto. Ia kemudian berlalu dan mengajak jane agar berdebat di ruangan.
Sebelum Jane berlalu Maruge berteriak pada Jane. “Dia seorang Kalenjin (suku yang setia pada Inggris),” kata Maruge.
“Maruge setelah merdeka kita semua orang Kenya,” jelas Jane.
“Kalenjin itu setia,” kata Maruge
“Jadi keluargaku setia pada inggris? Inggris saat itu tak memberi pilihan kau lawan dia atau kau ikut dia, jika kau lawan dia mereka akan membunuhmu,” ujar Jane keras.
Maruge menjawab,”aku punya anak dua anak aku punya keluarga inggris membunuhnya. Kikuyu memilih dan kami membayarnya,” kata Maruge kemudian pergi.
Jane berusaha memperjuangkan hingga pusat. Di pusat bilang kalau membiarkan Maruge, sekolah akan dibanjiri orang-orang tua. Hal ini akan menjauhkan sumber-sumber berharga yang dibutuhkan untuk anak-anak.
Jane temui Maruge untuk minta maaf, Maruge harus pergi ke sekolah orang dewasa. Akhirnya Maruge pergi ke sekolah bagi orang dewasa, tapi ia tak bisa memahami. Ia pun kembali datang pada Jane,
“Aku dulu bekerja di perkebunan dan peternakan kulit putih, itu kenapa aku menjadi pejuang. Aku memiliki surat itu alasan kenapa aku datang ke sekolah. Aku harus membacanya untuk diriku sendiri, tolonglah bantu saya membaca,” kata Maruge.
Jane kemudian telepon Kipruto namun tak diizinkan meski sudah meyakinkan dengan berbagai cara.
Pagi harinya saat Jane masuk kelas tampak anak-anak bersuka ria, berjoget dan bernyanyi melafalkan ABCDEF dengan nyanyian dipimpin oleh Maruge.
“Semuanya silakan duduk aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal. Kambing tak bisa membaca, tak bisa menulis namanya. Maukah menjadi seperti aku seorang pria tua tak lebih dari kambing,” kata Maruge pada anak-anak.
Saat itu Jane langsung menyahut.
“Kau tahu kambing binatang paling pintar, dia tak pernah menyerah, kita bisa belajar banyak dari mereka. Aku punya pengumuman penting (Jane memgang tangan Maruge). Mulai sekarang, Maruge menjadi asistenku,” kata Jane tegas.
Anak-anak teriak kegirangan. Senyum mengembang terlihat dari wajah Maruge.
Hari selanjutnya datang mobil-mobil dari stasiun televisi internasional. jurnalis media cetak maupun elektronik kemudian berebut dan mencoba mewawancarai Maruge.
Jane menenangkan para jurnalis, “satu-satu bertanya, dia punya masalah pendengaran.”
“CNN Washington, kenapa kau tidak sekolah saat muda?” tanya seorang jurnalis.
Jane menjawab bahwa pada saat Maruge muda tak ada pendidikan gratis.
“Apa motovasimu sekarang?” Lanjut jurnalis tersebut.
“Kekuatannya adalah bolpen, untuk membaca dan mengerti itu sangat penting. Ini salah satu cara menghentikan kemiskinan di antara kita,” jawab Maruge.
“BBC London, apakah pemerintah Kenya cukup dalam menangani pendidikan di negara ini?’ Tanya jurnalis lainnya.
“Ini pendidikan gratis, untuk semua,” jawab Maruge.
Pagi harinya sebuah siaran terdengar. Seorang penyiar radio dengan lantang membicarakan Maruge.
“Semua, dunia sudah gila. Maksudku lihatlah! New York Times, LA times, Kenya times, semua, BBC…..yang akhirnya bicara, Maruge, Maruge. Dan aku bahkan tidak berpikir membawa Maruge ke sekolah di umur 84 tahun!” Kata sang penyiar.
Kemudian muncul tayangan televise wawancara dengan Maruge, siaran televise tersebut menyebutkan banyak orangtua marah ketika Jane Obinchu membuka pintu bagi Maruge. Seharusnya sumber daya jangan disia-siakan untuk orang tua. Hal ini menjadi kontroversi di dunia pendidikan.
Adegan selanjutnya menunjukkan seorang orangtua murid ketika disapa marah menganggap Jane tak peduli pada anak-anak dan hanya peduli dengan dirinya sendiri. Hanya peduli pada wajah masuk koran dan memenuhi kantong dengan uang.
Jane dituduh telah menerima banyak uang dari pemberitaan tersebut.
“Teganya kamu bilang seperti itu, semua anak penting bagiku termasuk anakmu. Sekarang minggirlah,” kata Jane dengan nada tinggi.
Scene berikutnya tentang suasan sekolah yang penuh dengan orangtua murid sedang melakukan protes.
“Aku tahu kalian protes tapi banyak yang bisa kita pelajari dari Maruge. Dia banyak membantu dan bisa mengajari anak-anak,” kata Jane.
Ayah Kamau, Chege (ayah seorang siswa) menolak Maruge mengajar. “Aku tak ingin dia mengajari putraku. Siapa dia siapa dia,” kata Chege
Lagi-lagi Kipruto datang dan protes muncul perdebatan hingga masuk masalah kesukuan.
Adegan selanjutnya tentang gambaran masa lalu, saat istri dan anak Maruge dibunuh. Maruge berusaha tak menunjukkan agar tentara tak mengetahui ia istri dan anaknya.
“Tanya istri siapa dia,” bentak tentara kulit putih.
Tak berapa lama istri Maruge ditembak, anak pertama ditembak dan suara tangisan anak kedua lenyap setelah bunyi tembakan ketiga.
Maruge muda meraung-raung dan teriak.
Gambaran selanjutnya tentang Jane yang mengajar privat Maruge, ia tahu Maruge bagus dalam matematika tapi kesulitan membaca.
Adegan lain, Jane mendapat telepon ancaman. Lalu ada politikus datang ke sekolah mereka memuji Maruge, bahkan bertemu anak-anak dan membagi-bagikan permen pada anak-anak. Seeseorang yang datang bersama rombongan politikus tersebut Menuduh Jane menerima uang dari wartawan dan meminta bagian. Jane melepaskan paksa pegangan orang tersebut pada tangannya, kemudian menjauh.
Saat di rumah Jane menelepon Charles. Charles meminta Jane ke Nairobi namun ia menolak. Akhirnya Charles memutuskan untuk pulang, khawatir terjadi apa-apa dengan istrinya. Keesokan harinya di rumah bersama istrinya ia mendapat telepon gelap yang menyampaikan Jane memiliki hubungan gelap dengan seseorang tak lebih dari pelacur.
Adegan berikutnya di rumah Maruge yang didatangi para tetangga, para tetangga menuduh Maruge mendapat uang banyak dari wartawan dan mereka meminta bagian.
Seorang di antaranya ayah Kamau, Chege. Tak berapa lama, Chege kemudian membayar segerombolan pria untuk mengusir dan menakuti Maruge agar tidak lagi mengajar. Namun dengan gagah berani Maruge memukuli belasan pria dan mengusir mereka dengan tongkatnya.
Bagian lain, Maruge duduk dekat dengan Kamau.
“Leher panjang perut gemuk diberi topi (Maruge ajari Kamau dengan menulis angka 5 di tanah menggunakan tongkat),” kata Maruge. Usaha Maruge berhasil, kamau berhasil menulis angka 5.
Selanjutnya Jane mendapat surat dipindah ke turkana, jarak turkana 300 mil dari lokasi mengajar semula.
“Kau menderita karena aku ya,” tanya Maruge pada Jane.
“Tidak ini pilihanku kami (dengan suami) terbiasa jauh. Suamiku di Nairobi,” kata Jane.
Saat perpisahan dengan murid-muridnya, Jane berbicara di depan para siswa.
“Ibuku tidak terpelajar namun ia ingin aku lebih baik darinya. Aku ibumu kamu harus lebih baik dariku,” kata Jane.
Anak-anak bernyanyi dan memberikan berbagai hadiah, mulai dari bunga lukisan, kerajinan tangan dan sebagainya.
Maruge hanya berdiri di luar sekolah dengan mata berkaca-kaca. Ia kemudian pulang ke rumah seolah tak kuasa menyimpan kesedihan.
Hari berikutnya muncul kepala sekolah baru, disambut orangtua murid dengan riang gembira elu-eluan.
Namun anak-anak sudah merencanakan sesuatu, Kamau memimpin dan melempari kepala sekolah yang baru. Akhirnya kepala sekolah pulang.
Maruge pergi ke kota (Nairobi), membayar angkot dengan kambingnya. Di Nairobi banyak baliho dengan wajah Maruge sedang mengkampanyekan pendidikan.
Maruge ingin bertemu ketua dewan pendidikan, namun disuruh menunggu. Maruge nekat menerobos masuk, staf kantor lari-lari mengejar.
Maruge berhasil masuk ruang rapat ketua dewan pendidikan.
“Ayahmu satu perkemahan (kamp penyiksaan inggris) denganku. Tanpa mereka kalian tak akan ada di sini. Aku membutuhkan guru yang baik,” kata Maruge.
“Kamu sudah mendapatkan guru yang lain,” kata Ketua Dewan.
Maruge melepas baju dan menunjukkan luka-luka penyiksaan yang didaparkannya.
“Inggris memberikan ini padaku mereka memecahkan tengkorakku. Mereka memotong jari kakiku. Kami telah belajar dari masa lalu kami, kita tidak boleh lupa. Bahwa kita harus lebih baik. Kita perlu guru yang bagus. Kita renggut apa yang kita tabur dari anak-anak. Bawa dia kembali (Jane), thank you,” kata Maruge.
Setelah bilang demikian Maruge lalu pergi.
Sampai rumah, Maruge berusaha membaca surat presiden tersebut tapi dia tak mampu.
Keesokan hari Jane kembali ke sekolah tersebut. Anak-anak bersorak gembira. Maruge datang menghampiri. “Selamat datang kembali,” kata Maruge kemudian memeluknya. Anak-anak berlarian memeluk Jane.
Hari berikutnya, saat jane sedang berdiskusi dengan Alfred, Maruge dating menghampiri.
“Suratnya terlalu susah jadi kamu harus membacakannya,” ujar Maruge.
“Silakan duduk, Alfred tolong bacakan,” kata Jane yang sudah membuka surat tersebut sekilas kemudian menyerahkan pada Alfred.
Alfred:
“Tawanan hola camp nomor 4339”.
“Atas nama Republik Kenya”.
“Surat kami menginformasikan padamu bahwa kau telah diberikan kompensasi”.
“Untuk perawatan luka yang kau alamu selama di penjara saat koloni Inggris terjadi”
“Di kemah hola 1951-1953. Kemah Lang’ata dari 1953-1955. Kemah Manyani dari 1955-1957.
Kemah Embakasi 1957-1959.”
Masih banyak kemah penyiksaan lain yang dialami namun tak dibacakan.
“Tercatat di sini, tahanan 4339 menderita perlakuan kejam dan tidak manusiawi karena dalam tahanan dia menolak melanggar sumpah kesetiaan. Dengan rasa terima kasih atas pengorbanan heroikmu. Dalam pembebasan negara kita. Yang terhormat Presiden Republik Kenya.”
Jane meneteskan air mata.
“Kami di sini karena kamu Maruge. Mari kita pergi Maruge
,” kata Jane.
Kimani Ng’ang’a Maruge (1920-2009) memegang rekor dunia Guinnes menjadi orang tertua yang memulai pendidikan. Dia tercatat di PBB New York menjadi pemimpin simbol kekuatan pendidikan
Maruge menginspirasi seluruh generasi baru untuk ke sekolah pertama kalinya.
Suara penyiar radio”
“Pendudukku, guruku, guruku, wow!
Sekarang telah menyebar secara resmi
Bahwa kimani telah berhasil ke amerika serikat berkat usahanya sendiri.
Bicara pada PBB, bicara pada politikus.
Ini sukar dipercaya, aku bahkan tidak bisa …… Maruge bicara di Amerika serikat?
Ka tahu, aku tidak akan mulai mempercayai bahwa suatu hari orang Kenya. Akan datang ke White House.
Dan sekarang Kimani Maruge adalah kepala sekolah dunia. Ya kita bisa!!!”

 
Copyright © 2014 GANUFA | All Rights Reserved
Design by : Rumah Entreprenenur